Islam dan Kemerdekaan Beragama Karya KH. Oesman Mansoer

Byadmin

Islam dan Kemerdekaan Beragama Karya KH. Oesman Mansoer

Islam Toleran bukan Islam in Toleran
KATA PENGANTAR oleh Prof. Dr. H. Masykuri Bakri, M .Si*
(Rektor Universitas Islam Malang)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warrahmutullahi Wabarakatuh.

Manusia adalah makhluk mulia yang berpeluang besar untuk berkarya. Saya orang yg selalu optimis mendudukkan manusia sebagai kekuatan raksasa untuk mengubah tatanan kehidupan manusia dalam membangun budaya dan peradaban. Maka dari itu seseorang hidup harus ada legacy yang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Almarhum al maghfurlah KH Oesman Mansoer sosok Kyai dan akademisi yg hebat, beliau telah meninggalkan banyak legacy bagi generasi penerus, sikap menghormati orang lain, rendah hati, terbuka akan masukan dari orang lain, supel dalam berintraksi termasuk dengan mahasiswa, rasa kasih sayangnya terhadap yang muda ketika beliau masih hidup, banyak kesan positif dari sosok beliau yg sederhana baik dalam berpakaian maupun tutur katanya menjadi penyejuk.
Dari banyak karya dan teladan dari beliau, salah satu legacynya yang begitu terasa adalah Universitas Islam Malang (Unisma) yang kini sudah menjadi salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia. Unisma sudah menjadi kampus kebanggan Nahdlatul Ulama’ (NU) yang bersiap menjadi World Class University (WCU) pada 2027, sembari sekarang dipersiapkan dengan kekuatan penuh dan tahapan-tahapan konkrit dari pimpinan.

Perjalanan panjang Unisma hingga saat ini tidak terlepas dari peran KH. Oesman Mansoer yang merupakan salah satu pendiri Unisma. Dalam catatan sejarah, KH Oesman Mansoer adalah satu dari tim sembilan panitia pendirian Unisma.
Berdasarkan kerja keras tim sembilan itulah, pada 27 Maret 1981 berdirilah Yayasan Sunan Giri, yang sekarang menjadi Yayasan Universitas Islam Malang. Para sarjana Islam ketika itu, termasuk KH Oesman Mansoer, KH. Tholchah Hasan, H. Abdul Ghofir, H. Fathullah dan kawan-kawan mendambakan perguruan tinggi Islam yang moderat dan berhaluan Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah.

Karena peran penting para pelopor dan pendiri Unisma ini, pimpinan di kampus ini selalu mengingat jasa-jasa para pendiri itu. Untuk KH Oesman Mansoer, saat ini namanya sudah kami abadikan menjadi nama ruang pertemuan di kampus Unisma. Kami juga pernah bersilaturahmi kepada keluarga dan ahli waris para pendiri, termasuk keluarga KH Oesman Mansoer.

Selain Unisma, tentu saja banyak legacy lain dari KH Oesman Mansoer. Beliau tercatat sebagai Dekan IAIN Sunan Ampel Malang pada 1969-1972 dan merintis berdirinya beberapa lembaga pendidikan Islam seperti SMP Islam dan SMA Shalahuddin Malang serta Akademi Pendidikan Ilmu dan Agama Islam (APIAI) pada 1959.

Hadirnya buku ini juga merupakan legacy dari KH Oesman Mansoer. Di kalangan Ulama’ zaman saat itu, cukup sedikit Ulama’ yang mempunyai kecakapan menulis. Dan KH Oesman Mansoer menjadi bagian dari yang sedikit itu.
Sama dengan Unisma, buku ini merupakan karya monumental karena tidak terikat pada ruang dan waktu. Meski buku ini terbit pertama kali pada 1980, tapi masih sangat relevan dalam konteks saat ini.

Di tengah gerakan Islam Fundamental dan Islam Identitas yang kian terkonsolidasi saat ini, buku Islam dan Kemerdekaan Beragama ini sangat layak dibaca kembali. Di buku ini, kita setidaknya bisa belajar tentang Islam yang penuh welas asih (rahmah), bukan Islam yang marah, Islam yg toleran bukan Islam yg in toleran. Ada banyak teori barat, dan juga kajian al Qur’an yang tersaji di buku ini. Karena begitu kompleksnya pembahasan, buku ini relevan tanpa terikat oleh tempat dan waktu.

Karena begitu pentingnya buku ini, Universitas Islam Malang (Unisma) mendukung penuh penerbitan ulang buku ini. Baik secara finansial dan dukungan moral, Unisma mensupport penuh. Semoga dengan terbitnya buku ini, bisa menjadi pembelajaran bagi siapapun, khususnya bagi civitas akademika Unisma.
Penerbitan buku ini juga semakin membenarkan istilah Verba Volant, Scripta Manent yakni yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi. Meski terbit pertama kali pada 1980, tapi pikiran-pikiran KH Oesman Mansoer tetap segar dan abadi melalui karyanya yang ada di dalam buku ini.

Akhirul kalam, semoga penerbitan ulang buku ini bermanfaat… Amin Ya Allah Ya Mujibassailien. Wallahu ‘Alam bi as Sowab.

Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarokatuh.

About the author

admin administrator

Leave a Reply