Negeri Sengkarut

Byadmin

Negeri Sengkarut

Judul: Negeri Sengkarut
Ukuran: 12 cm X 21 cm ; Hal: i – xii ; 1 – 101
Karya: Lalu Nurul Yaqin & Ali Bin DachlanISBN: 978-602-5699-825
Penerbit: Kota Tua Malang dan LPPM Universitas Gunung Rinjani
Penyunting: Akhmad Habibi & Karomi

 

Pengantar Penulis

Tak ada kata lain untuk mengawali pengantar ini, selain bersyukur kepada Allah satu-satunya Maha Dzat yang menyodorkan kepada kami kemungkinan, waktu dan energi untuk menuliskan sebagian kecil potret dalam citra negeri ini. Kemudian terima kasih kepada junjungan kami sang Rasul Muhammad SAW, yang telah mengajarkan kami cinta kasih sesama dan cara hidup dan kehidupan yang baik.

Negeri Sengkarut sebagai judul buku ini, tidaklah hadir dalam medium kosong. Buku ini hadir dan berada ditangan anda untuk mewakili serpihan pemikiran anak bangsa, yang sama sekali kami tidak menyebut mewakili keseluruhan apalagi merepresentasikan semua fenomena yang terjadi dan lalu Lalang di negeri ini. Tulisan dalam buku ini lahir dari dengung sosial yang setiap hari menabuh genderangnya, dan suara genderang itu kami tangkap dalam bentuk coretan sederhana dalam buku ini.

Negeri Sengkarut; membayangkan negeri yang subur- makmur ‘tongkat ditanam, tongkatpun hidup’ atau seloroh tukang obat ‘mata digosok, matapun hilang’ begitulah seloroh anak bangsa negeri ini yang ceritanya terkenal di lima benua. Negeri yang memberikan harapan masa depan, negeri yang memberikan kepastian tanpa kepastian, negeri yang datang pergi tanpa istirahat, maka negeri itu bak mantra para pecinta mistis memanggil jelangkung ‘datang tanpa diundang, pergi tanpa diantar’. Negeri dimana hal-hal aneh menjadi biasa-biasa, hal yang biasa-biasa dibuat luar biasa.

Negeri Sengkarut; ketika para pendongeng dijadikan rujukan, ketika para komedian dijadikan imam yang selalu benar. Inilah negeri sengkarut saat kebenaran tidak lagi menjadi hakim adil. Inilah negeri sengkarut ketika para pakar dikebiri, lalu menghadirkan ilusi dan emosi sebagai kebenaran. Inilah negeri sengkarut seseorang yang menyuarakan kebatilan bagai malaikat tak kenal kata keliru. Inilah negeri sengkarut emosi bangsanya disulut dan mudah terbakar.

Negeri Sengkarut; ketika hanya satu yang hebat dan sama yaitu kepentingan. Kepentingan yang ujungnya hanya “kekuasaan”. Untuk mendapatkan kekuasaan dan pengikut yang setia maka pemilik kekuasaan menghilangkan ingatan intelektual pengikutnya. Bahkan kekuasaan memiliki karakter bawaan untuk terus dipertahankan, dan untuk mempertahankankan itu, orang perlu didungukan dengan dogma-dogmatis untuk melanggengkan kekuasaannya.

Negeri sengkarut dimana pertarungan wacana yang terjadi dewasa ini, tak lain tak bukan bermuara pada kekuasaan. Di hulu pertarungan wacana lahir dalam medium rasional, tapi sampai hilir riuh rendah menjadi irrasional. Kadang seseorang merasa di dzalimi karena tidak berkuasa, begitu juga sebaliknya menzalimi seorang karena kekuasaan.

Negeri Sengkarut; dimana benci dan cinta menjadi barang obralan. Negeri sengkarut dimana para elit mempertontonkan perkelahian semu dilayar kaca, sementara dibelakang layar mereka cupika cupiki dan deal or no deal. Negeri sengkarut dimana makna kebencian membingungkan kamus besar Bahasa Indonesia karena makna tersebut sudah keluar dari makna denotasinya menjadi makna konotasi yang liar. Negeri sengkarut dimana kasih sayang dan kebencian begitu cepat dikembang biakkan.

Negeri sengkarut ketika cacian dan makian ditertawakan dan diternakkan. Negeri sengkarut ketika rakyat terus-menerus menjadi subjek dan objek pesakitan elit. Rakyat itu paling luhur, sekaligus paling hina, paling dijunjung dan paling diinjak. Rakyat adalah pusat segala dan demi atas nama yang selalu tertindih dan harus berkorban. Ujungnya walau para elit sudah berdamai tapi rakyat kembali membuat mimbar bebas dan pengadilan jalanan untuk menuntut janji-janji. Di negeri sengkarut juga banyak orang-orang tidak baik membuat mimbar jalanan menutut hal yang baik-baik.

Negeri Sengkarut; dimana kebudayaan yang dipimpin oleh napas kekuasaan memang terus mendidik kita menjadi binatang. Dunia politik, ekonomi, dan budaya dewasa ini sangat dinapasi oleh sifat kebinatangan. Bahkan tikus-tikus berdasi telah menjadi bunglon-bunglon berdasi dan suaranya nyaring seperti jangkrik. Bunglon sebagai personifikasi orang culas, lebih tragis, para bunglon senang melihat kebodohan bahkan semakin berkembang taktiknya memelihara kebodohan, termasuk dengan menggunakan instrumen agama sekalipun. Ha …ha.. ini negeri sengkarut dan negeri bunglon, karena bangsa yang penduduknya mayoritas bunglon bukanlah bangsa besar, melainkan bangsa yang sedang bermasalah. Di negeri sengkarut apapun bisa terjadi dimana kelompok bunglon yang menjelma menjadi laron dan berkumpul bukanlah ciri asli dari masyarakat kita. Kelompok ini selalu menjadi noda dalam sejarah suatu bangsa.

Negeri sengkarut; dimana Tuhan di politikkan, dimana mimbar-mimbar diisi oleh penceramah-penceramah instan yang sanat keilmuannya dari google. Di dalam masyarakat Lombok ada ungkapan sarkastis tentang para ulama sebagai sindiran tajam dari kelompok awam. Istilah ulama bari atau selamaq atau selamaq ekek, adalah sebutan untuk ulama- ulama atau orang yang disebut ulama tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan perkataannya atau tidak sesuai dengan isi dakwahnya.’ Politik di negeri ini akan terasa hambar kalau tidak dihadiri para ulamanya ikut dipanggung politik, yang kemudian dieksploitasi untuk meraih suara dalam perhelatan politik. Di negeri sengkarut; politik selalu atas nama Tuhan.

Akhirnya, buku Negeri Sengkarut ada ditangan anda, mudahan anda menerimanya dengan senyuman dan kelapangan dada. Dengan kesadaran yang mendalam penulis sampaikan, atas semua kekurangan dalam buku yang jauh dari Ilmiah baik secara epistimologis dan metodologis, dan apapun yang terdapat dalam isi buku ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis.

Lombok-Kuala Lumpur, November 2019
Penulis,

About the author

admin administrator

Leave a Reply