Category Archive Kota Tua Book

Byadmin

Bapak Tua Demam; Kumpulan Puisi

Judul: Bapak Tua Demam

Penulis: Santoso Mahargono

Penerbit: Kota Tua

Tahun Terbit: 2009

 

Pengantar Penerbit

Kumpulan 43 puisi ini ditulis sangat reflektif oleh penulis. Puisi- puisi dibuat atas
realitas di sekitar yang semakin hari semakin menggelisahkan. Sebagaimana yang
ditulis dalam puisi Media Sosial. Salah satunya, di buku ini dituliskan, “Apakah aku
harus menjadi tuan bagi media sosial? Ataukah media sosial menjadi tuanku saja?”

Tidak hanya itu, kumpulan puisi penuh dengan pesan moral. Mulai dari perjuangan
seorang ibu, hingga romansa rindu yang diganggu oleh “pesing”. Sungguh puisi-
puisi yang layak untuk dibaca dan diserap bait maknawinya.

Editor
Penerbit Kota Tua

Byadmin

Cakrawala Pembebasan

Judul: Cakrawala Pembebasan

Penulis:Hoirur Rosikin

Tahun Terbit: Desember, 2019

Ukuran: 14 cm X 21 cm; Hal: v + 200

Cetakan I, 2019

 

Sinopsis

Tak ada faham yang buruk dalam menciptakan nilai-nilai demokrasi dalam arah pembebasandan niatlah yang menjadikan kita mengenal mana yang harus kita implementasikan dalam gerakan kesadaran atas suatu pembebasan.

Dalam diri manusia terdapat makna sejutakesadaran atas ekologi pembebasan terhadap manusia.Dalam diri manusia terdapat dua sudut pandang dalam pembebasan yaitu: materiaslisme dan idealisme, yang saling kontradiksi dalam suatu perubahan nilai nilai pembebasan atas manusia.

Orang-orang idealis berbicara pembebasan melewati suatu zat dalam berfikir atas nama manusia yang berakal dan hati yang sadar.Orang orang materialisme berbicara pembebasan melawati matter/ benda dalamberfikir yang mengantarkan kita dalam ranah gerak berfikir atas nama benda yang berskala,yaitu manusia.

Atas suatu gambaran berfikir pembebasan ini kita mencoba untuk sadar dalam suatu dialektikayang sangatimplementatifdalam gerak gravitasi kesadaran yang mempunyai nilai jual terhadap peradaban ini atas nama manusia dalam merawat ruh ruh kemerdekaan bangsa dengan iklim sanubariyang revolusioner dalam sudut pandang kebenaran materialisme dan idealisme- untuk menciptakan nilai kritis yang progresif dalam tuntunan atas nama dialektika yang absolut dan melawan suatu kezoliman kapitalisme yang menindas nilai-nilai manusia dalam makna sesama manusia Ekologi.

Sebagai mana yang disebut dalam Al-Qur’an, “Bertolongmenolonglah kamu dalam kebajikan dan dalam berbakti atas Tuhan.” ..dan janganlah kamu bertolong-menolongatas dosa dan permusuhan.

Byadmin

Negeri Sengkarut

Judul: Negeri Sengkarut
Ukuran: 12 cm X 21 cm ; Hal: i – xii ; 1 – 101
Karya: Lalu Nurul Yaqin & Ali Bin DachlanISBN: 978-602-5699-825
Penerbit: Kota Tua Malang dan LPPM Universitas Gunung Rinjani
Penyunting: Akhmad Habibi & Karomi

 

Pengantar Penulis

Tak ada kata lain untuk mengawali pengantar ini, selain bersyukur kepada Allah satu-satunya Maha Dzat yang menyodorkan kepada kami kemungkinan, waktu dan energi untuk menuliskan sebagian kecil potret dalam citra negeri ini. Kemudian terima kasih kepada junjungan kami sang Rasul Muhammad SAW, yang telah mengajarkan kami cinta kasih sesama dan cara hidup dan kehidupan yang baik.

Negeri Sengkarut sebagai judul buku ini, tidaklah hadir dalam medium kosong. Buku ini hadir dan berada ditangan anda untuk mewakili serpihan pemikiran anak bangsa, yang sama sekali kami tidak menyebut mewakili keseluruhan apalagi merepresentasikan semua fenomena yang terjadi dan lalu Lalang di negeri ini. Tulisan dalam buku ini lahir dari dengung sosial yang setiap hari menabuh genderangnya, dan suara genderang itu kami tangkap dalam bentuk coretan sederhana dalam buku ini.

Negeri Sengkarut; membayangkan negeri yang subur- makmur ‘tongkat ditanam, tongkatpun hidup’ atau seloroh tukang obat ‘mata digosok, matapun hilang’ begitulah seloroh anak bangsa negeri ini yang ceritanya terkenal di lima benua. Negeri yang memberikan harapan masa depan, negeri yang memberikan kepastian tanpa kepastian, negeri yang datang pergi tanpa istirahat, maka negeri itu bak mantra para pecinta mistis memanggil jelangkung ‘datang tanpa diundang, pergi tanpa diantar’. Negeri dimana hal-hal aneh menjadi biasa-biasa, hal yang biasa-biasa dibuat luar biasa.

Negeri Sengkarut; ketika para pendongeng dijadikan rujukan, ketika para komedian dijadikan imam yang selalu benar. Inilah negeri sengkarut saat kebenaran tidak lagi menjadi hakim adil. Inilah negeri sengkarut ketika para pakar dikebiri, lalu menghadirkan ilusi dan emosi sebagai kebenaran. Inilah negeri sengkarut seseorang yang menyuarakan kebatilan bagai malaikat tak kenal kata keliru. Inilah negeri sengkarut emosi bangsanya disulut dan mudah terbakar.

Negeri Sengkarut; ketika hanya satu yang hebat dan sama yaitu kepentingan. Kepentingan yang ujungnya hanya “kekuasaan”. Untuk mendapatkan kekuasaan dan pengikut yang setia maka pemilik kekuasaan menghilangkan ingatan intelektual pengikutnya. Bahkan kekuasaan memiliki karakter bawaan untuk terus dipertahankan, dan untuk mempertahankankan itu, orang perlu didungukan dengan dogma-dogmatis untuk melanggengkan kekuasaannya.

Negeri sengkarut dimana pertarungan wacana yang terjadi dewasa ini, tak lain tak bukan bermuara pada kekuasaan. Di hulu pertarungan wacana lahir dalam medium rasional, tapi sampai hilir riuh rendah menjadi irrasional. Kadang seseorang merasa di dzalimi karena tidak berkuasa, begitu juga sebaliknya menzalimi seorang karena kekuasaan.

Negeri Sengkarut; dimana benci dan cinta menjadi barang obralan. Negeri sengkarut dimana para elit mempertontonkan perkelahian semu dilayar kaca, sementara dibelakang layar mereka cupika cupiki dan deal or no deal. Negeri sengkarut dimana makna kebencian membingungkan kamus besar Bahasa Indonesia karena makna tersebut sudah keluar dari makna denotasinya menjadi makna konotasi yang liar. Negeri sengkarut dimana kasih sayang dan kebencian begitu cepat dikembang biakkan.

Negeri sengkarut ketika cacian dan makian ditertawakan dan diternakkan. Negeri sengkarut ketika rakyat terus-menerus menjadi subjek dan objek pesakitan elit. Rakyat itu paling luhur, sekaligus paling hina, paling dijunjung dan paling diinjak. Rakyat adalah pusat segala dan demi atas nama yang selalu tertindih dan harus berkorban. Ujungnya walau para elit sudah berdamai tapi rakyat kembali membuat mimbar bebas dan pengadilan jalanan untuk menuntut janji-janji. Di negeri sengkarut juga banyak orang-orang tidak baik membuat mimbar jalanan menutut hal yang baik-baik.

Negeri Sengkarut; dimana kebudayaan yang dipimpin oleh napas kekuasaan memang terus mendidik kita menjadi binatang. Dunia politik, ekonomi, dan budaya dewasa ini sangat dinapasi oleh sifat kebinatangan. Bahkan tikus-tikus berdasi telah menjadi bunglon-bunglon berdasi dan suaranya nyaring seperti jangkrik. Bunglon sebagai personifikasi orang culas, lebih tragis, para bunglon senang melihat kebodohan bahkan semakin berkembang taktiknya memelihara kebodohan, termasuk dengan menggunakan instrumen agama sekalipun. Ha …ha.. ini negeri sengkarut dan negeri bunglon, karena bangsa yang penduduknya mayoritas bunglon bukanlah bangsa besar, melainkan bangsa yang sedang bermasalah. Di negeri sengkarut apapun bisa terjadi dimana kelompok bunglon yang menjelma menjadi laron dan berkumpul bukanlah ciri asli dari masyarakat kita. Kelompok ini selalu menjadi noda dalam sejarah suatu bangsa.

Negeri sengkarut; dimana Tuhan di politikkan, dimana mimbar-mimbar diisi oleh penceramah-penceramah instan yang sanat keilmuannya dari google. Di dalam masyarakat Lombok ada ungkapan sarkastis tentang para ulama sebagai sindiran tajam dari kelompok awam. Istilah ulama bari atau selamaq atau selamaq ekek, adalah sebutan untuk ulama- ulama atau orang yang disebut ulama tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan perkataannya atau tidak sesuai dengan isi dakwahnya.’ Politik di negeri ini akan terasa hambar kalau tidak dihadiri para ulamanya ikut dipanggung politik, yang kemudian dieksploitasi untuk meraih suara dalam perhelatan politik. Di negeri sengkarut; politik selalu atas nama Tuhan.

Akhirnya, buku Negeri Sengkarut ada ditangan anda, mudahan anda menerimanya dengan senyuman dan kelapangan dada. Dengan kesadaran yang mendalam penulis sampaikan, atas semua kekurangan dalam buku yang jauh dari Ilmiah baik secara epistimologis dan metodologis, dan apapun yang terdapat dalam isi buku ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis.

Lombok-Kuala Lumpur, November 2019
Penulis,

Byadmin

Islam dan Kemerdekaan Beragama Karya KH. Oesman Mansoer

Islam Toleran bukan Islam in Toleran
KATA PENGANTAR oleh Prof. Dr. H. Masykuri Bakri, M .Si*
(Rektor Universitas Islam Malang)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warrahmutullahi Wabarakatuh.

Manusia adalah makhluk mulia yang berpeluang besar untuk berkarya. Saya orang yg selalu optimis mendudukkan manusia sebagai kekuatan raksasa untuk mengubah tatanan kehidupan manusia dalam membangun budaya dan peradaban. Maka dari itu seseorang hidup harus ada legacy yang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Almarhum al maghfurlah KH Oesman Mansoer sosok Kyai dan akademisi yg hebat, beliau telah meninggalkan banyak legacy bagi generasi penerus, sikap menghormati orang lain, rendah hati, terbuka akan masukan dari orang lain, supel dalam berintraksi termasuk dengan mahasiswa, rasa kasih sayangnya terhadap yang muda ketika beliau masih hidup, banyak kesan positif dari sosok beliau yg sederhana baik dalam berpakaian maupun tutur katanya menjadi penyejuk.
Dari banyak karya dan teladan dari beliau, salah satu legacynya yang begitu terasa adalah Universitas Islam Malang (Unisma) yang kini sudah menjadi salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia. Unisma sudah menjadi kampus kebanggan Nahdlatul Ulama’ (NU) yang bersiap menjadi World Class University (WCU) pada 2027, sembari sekarang dipersiapkan dengan kekuatan penuh dan tahapan-tahapan konkrit dari pimpinan.

Perjalanan panjang Unisma hingga saat ini tidak terlepas dari peran KH. Oesman Mansoer yang merupakan salah satu pendiri Unisma. Dalam catatan sejarah, KH Oesman Mansoer adalah satu dari tim sembilan panitia pendirian Unisma.
Berdasarkan kerja keras tim sembilan itulah, pada 27 Maret 1981 berdirilah Yayasan Sunan Giri, yang sekarang menjadi Yayasan Universitas Islam Malang. Para sarjana Islam ketika itu, termasuk KH Oesman Mansoer, KH. Tholchah Hasan, H. Abdul Ghofir, H. Fathullah dan kawan-kawan mendambakan perguruan tinggi Islam yang moderat dan berhaluan Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah.

Karena peran penting para pelopor dan pendiri Unisma ini, pimpinan di kampus ini selalu mengingat jasa-jasa para pendiri itu. Untuk KH Oesman Mansoer, saat ini namanya sudah kami abadikan menjadi nama ruang pertemuan di kampus Unisma. Kami juga pernah bersilaturahmi kepada keluarga dan ahli waris para pendiri, termasuk keluarga KH Oesman Mansoer.

Selain Unisma, tentu saja banyak legacy lain dari KH Oesman Mansoer. Beliau tercatat sebagai Dekan IAIN Sunan Ampel Malang pada 1969-1972 dan merintis berdirinya beberapa lembaga pendidikan Islam seperti SMP Islam dan SMA Shalahuddin Malang serta Akademi Pendidikan Ilmu dan Agama Islam (APIAI) pada 1959.

Hadirnya buku ini juga merupakan legacy dari KH Oesman Mansoer. Di kalangan Ulama’ zaman saat itu, cukup sedikit Ulama’ yang mempunyai kecakapan menulis. Dan KH Oesman Mansoer menjadi bagian dari yang sedikit itu.
Sama dengan Unisma, buku ini merupakan karya monumental karena tidak terikat pada ruang dan waktu. Meski buku ini terbit pertama kali pada 1980, tapi masih sangat relevan dalam konteks saat ini.

Di tengah gerakan Islam Fundamental dan Islam Identitas yang kian terkonsolidasi saat ini, buku Islam dan Kemerdekaan Beragama ini sangat layak dibaca kembali. Di buku ini, kita setidaknya bisa belajar tentang Islam yang penuh welas asih (rahmah), bukan Islam yang marah, Islam yg toleran bukan Islam yg in toleran. Ada banyak teori barat, dan juga kajian al Qur’an yang tersaji di buku ini. Karena begitu kompleksnya pembahasan, buku ini relevan tanpa terikat oleh tempat dan waktu.

Karena begitu pentingnya buku ini, Universitas Islam Malang (Unisma) mendukung penuh penerbitan ulang buku ini. Baik secara finansial dan dukungan moral, Unisma mensupport penuh. Semoga dengan terbitnya buku ini, bisa menjadi pembelajaran bagi siapapun, khususnya bagi civitas akademika Unisma.
Penerbitan buku ini juga semakin membenarkan istilah Verba Volant, Scripta Manent yakni yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi. Meski terbit pertama kali pada 1980, tapi pikiran-pikiran KH Oesman Mansoer tetap segar dan abadi melalui karyanya yang ada di dalam buku ini.

Akhirul kalam, semoga penerbitan ulang buku ini bermanfaat… Amin Ya Allah Ya Mujibassailien. Wallahu ‘Alam bi as Sowab.

Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarokatuh.

Byadmin

Aku Lahir Telanjang Karya JA. Noertjahyo

Aku Lahir Telanjang
Tebal : 254 Halaman
Akron: 15,5 cm x 23 cm
ISBN: 978-602-5699-49-8
Penerbit : Kota Tua
Penulis: J. A Noertjahyo (wartawan senior kompas)
Harga : Rp. 70.000
Stok : 33 Eksemplar
Sinopsis:
“TELANJANG TAPI BERMAKNA” – Buku ini mengungkap bahwa profesi jurnalis yang dilakoni oleh J.A. Noertjahyo merupakan profesi yang amat mulia, kompleks dan challenging. Liputannya beranekaragam dan mendalam. Mulai dari kapuk, tebu, apel, jeruk, anggrek hingga tanaman obat keluarga (toga). Hak azasi manusia, kriminalitas, ziarah dan pariwisata pun menjadi perhatian seriusnya. Bukan hanya berita domestik, tetapi tentang Filipina dan Swiss pun disajikannya. Kumpulan tulisan ini inspirasi kuat di tengah pemberitaan media sosial instan dan kacangan yang dangkal tanpa kompetensi intelektual yang profresional. Buku ini amat bermanfaat untuk para jurnalis dan membuka wawasan bagi semua pembaca. Ternyata, jurnalisme itu lebih dari sekedar opini dan berita, tapi bisa melahirkan catatan historis yang bermanfaat sepanjang masa. Buku ini salah satu contohnya.
Albertus Herwanta, MA,
Rektor Universitas Katolik Widya Karya,  Malang
* * *
“SWASEMBADA KEDELAI ITU MUDAH” – iitulah bagian penting ucapan saya ketika diwawancarai Pak Noertjahyo. Dan kalimat itu dijadikan judul tulisannya yang dimuat Kompas tanggal 23 Desember 2003. Saya masih menyimpan kliping tulisan ini. Saya merasa bahwa Pak Noertjahyo  melakukan wawancara secara komprehensip dan menuangkan hasil wawancara dalam tulisannya secara padat-akurat, namun tetap enak dibaca. Tulisan itu sangat saya hargai, dan setiap kali ditanya wartawan lagi tentang persoalan swasembada kedelai, selalu saya suruh menjadikan tulisan tersebut sebagai referensi.
DR Ir Suyono, MS
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember (sekarang pensiun), dan “guru” pengembangan kedelai edamame (1993-1999) Jember yang menjadi komoditas ekspor.
* * *
“MEMBACA JUDUL BUKU” – Yang berbunyi “Aku Lahir Telanjang”, secara spontan saya menebak isi buku itu mengisahkan tentang kehidupan manusia yang secara alamiah memang telanjang, tidak mempunyai apa-apa. Ini yang perlu diingat setiap orang. Mungkin si penulis sedang mencari jatidirinya, atau sudah menemukan jatidirinya seperti itu.
Agustinus Lie, CDD
Dosen Filsafat China PADA STFT Widya Sasana Malang.
* * *
“AKU LAHIR TELANJANG” – Merupakan sebuah buku yang ingin mengatakan bahwa hidup kita tidak ada maknanya kalau tidak berarti. Keberartian kita ketika kita mampu untuk mempersembahkan hari demi hari dengan hal yang bermakna, “Aku Lahir Telanjang” merupakan sebuah paparan bagaimana si penulis ingin mengatakan itu kepada kita. Semoga tulisan J.A. Noertjahyo ini menggoda kita untuk selalu berjuang agar kita pun bermakna bagi kehidupan ini.
RP Eka Aldilanta
Sekretaris Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan  Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta.
Byadmin

Negeri Para Penyalak Karya Irham Thoriq Aly

Negeri Para Penyalak
Tebal   : 123 Halaman
Ukuran       : 14×21 centimeter
ISBN           : 978-602-5699-40-5
Penerbit     : Kota Tua
Penulis  : Irham Thoriq
Harga  : Rp. 40.000
Stok           : 200 Eksemplar
Sinopsis:
Shalat tidak seharusnya hanya menjadi kegiatan formal untuk mendulang pahala. Shalat harus berdampak pada dimensi sosial. Hakikat shalat yang sesungguhnya tidak dimulai setelah kita ber-takbiratul ihram, melainkan setelah kita mengucap salam.
Belajar dari Dia yang Shalat Pakai Bahasa Indonesia
Buku ini berisi esai suka-suka, yang ditulis di waktu yang suka-suka pula. Tak ada tulisan yang serius di esai ini, semuanya disajikan secara gamblang, apa adanya, jernih, kadang jenaka. Buku ini cocok bagi Anda, yang mulai belajar tulis menulis. Karena di buku ini, penulis berprinsip, melalui aneka rupa tulisannya, dia ingin memberi tahu yang belum tahu, tak menggurui bagi yang sudah tahu.
Buku ini berisi 33 esai, yang ditulis dalam waktu kurang lebih dua setengah tahun. Ada yang sudah dipublikasi, tapi banyak juga yang belum. Yang sudah dipublikasi diantaranya Belajar dari Dia yang Shalat Pakai Bahasa Indonesia, yang terbit pertama kali di Mojok.co, salah satu situs satire terbaik di negeri ini.
Ada juga yang terbit di website pribadi penulis. Seperti esai yang berjudul Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis. Meski hanya diunggah di blog pribadi, tulisan ini dibaca oleh kurang lebih 54 ribu pembaca. Di Fecebook, banyak yang mengunggah tulisan ini, khususnya mereka yang berdomisili di Kota Malang.
Sedangkan esai yang belum diunggah diantaranya esai tentang Edi Mulyono, seorang pengusaha dan penulis asal Jogjakarta. Di esai ini dijelaskan bagaimana cara kaya raya, tapi jika mati, tetap masuk surga. Enak, bukan?
Akhirul kalam, selamat membaca buku sederhana ini. Salam bahagia.
Byadmin

Metode Penelitian Sastra Lisan Kontekstual

Penulis: Eggy Fajar Andalas, dkk

Peneliti perlu menyadari bahwa sastra lisan bukan hanya persoalan teks semata. Akan tetapi, kehadiran teks sastra lisan selalu diiringi dengan aspek tekstur dan konteks yang melingkupinya. Teks hanyalah salah satu bagian dari peristiwa “komunikasi” lisan yang menjadi medium antara penampil dan penonton sastra lisan. Hal ini didasari fakta bahwa eksistensi sastra lisan sangat bergantung pada tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Sastra lisan tidak dapat dipandang layaknya teks sastra tulis karena sastra lisan eksis hanya ketika ia ditampilkan saja. Tanpa adanya “pertunjukan”, keberadaan sastra lisan tidak ada.

Buku ini dirancang sebagai sebuah petunjuk praktis bagi mahasiswa ataupun peneliti dari berbagai displin ilmu yang tertarik untuk mengkaji fenomena budaya lisan yang ada di masyarakat.

Byadmin

Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran karya Prof Masykuri

Buku Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran karya Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Prof Dr Masykuri Bakri M.si ini berisi tentang konsep belajar dan pembelajaran yang bersumber dari banyak literatur. Ada sembilan topik bahasan manajemen pendidikan dalam buku ini. Dimulai dari konsep manajemen pendidikan dasar hingga konsep manajemen pendidikan agama islam.

Selain itu, buku ini cocok menjadi pedoman pendidik atau guru dalam melakukan pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif dengan panjang lebar dibahas dalam buku ini. Dengan tidak pada satu tawaran, akan tetapi banyak tawaran inovasi pendidikan.

Materi yang ada dalam buku ini diantaranya sebagai berikut:

1. Inovasi Manajemen Pendidikan

2. Inovasi Kurikulum Pendidikan

3. Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

4. Inovasi Pendidikan dan Sistem Pembelajaran

5. Pembelajaran Kontekstual

6. Inovasi Belajar dan Pembelajaran

7. Inovasi Pembelajaran Berbasis PAIKEM

8. Teori Belajar dan Pembelajaran Inovatif

9. Implementasi Teori Konstruktivistik dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Byadmin

Model Pendampingan Masyarakat Kepulauan Berbasis Rumput Laut

Sapeken adalah sebuah kecamatan di gugusan Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep (Jawa Timur). Wilayah ini terletak di bagian paling ujung kepulauan Madura. Penduduk di Kepulauan Sapeken ini umumnya berbahasa Sulawesi (bahasa  Bajo, Mandar, dan Bugis). Akses ke Kepulauan Sapeken adalah dengan menggunakan kapal penumpang atau kapal perintis melalui dengan rute Pulau Madura (Pelabuhan Kalianget, Sumenep) atau Banyuwangi (Pelabuhan Tanjungwangi). Mayoritas penduduk Sapeken bermata pencaharian nelayan tangkap. Sebagaimana permasalahan nelayan Indonesia pada umumnya, kemiskinan menjadi permasalahan utama di Sapeken.  Kepulauan Sapeken sebenarnya memiliki potensi perikanan yang masih terbuka untuk investasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya karena dianugerahi kondisi geografis yang sangat mendukung yaitu berupa budidaya laut (marine culture). Lahan yang dimanfaatkan hanya sedikit dari luas lahan potensi marine culture yang efektif (diperkirakan puluhan ribu hektar).

Buku ini menyajikan informasi mengenai berbagai kegiaatan yang telah kami laksanakan selama tiga tahun di daerah tersebut. Namun demikian, untuk menambah bobot ilmiah serta bentuk tanggung jawab akademik, maka dalam buku ini disampaikan pula kajian referensi yang mendukung. Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berisi tentang konsep model pendampingan masyarakat, corporate social responsibility, dan urgensi pendampingan nelayan/pembudidaya. Bagian tersebut terdiri atas dua bab, yaitu Bab 1: Model Pendampingan dan Urgensi Pendampingan Untuk Pengembangan Nelayan/Pembudidaya, dan Bab 2: Pengembangan Masyarakat Melalui Corporate Social Responsibility. Sementara itu, bagian kedua berisi tentang best practice program pengabdian ipteks bagi wilayah (IbW) – corporate social responsibility (CSR). Bagian tersebut terdiri atas empat bab, yaitu Bab 3: Profil Perusahaan Mitra (SKK Migas – Kangean Energy Indonesia), Bab 4: Keadaan Umum Daerah Pengabdian, Bab 5: Potensi, Kendala, dan Strategi Pengembangan Budidaya Rumput Laut Di Kepulauan Sapeken, dan Bab 6: Kegiatan Pendampingan yang Dilakukan (Program Ipteks Bagi Wilayah-Corporate Social Responsibility [IbW-CSR]). Penyajian materi-materi tersebut diharapkan dapat memberi inspirasi bagi pembaca, khususnya bagi dosen, peneliti, pengambil kebijakan, maupun masyarakat yang memiliki ketertarikan serta concern pada tema-tema tersebut.

Selamat membaca, semoga buku ini memberikan inspirasi!

 

Byadmin

Mudahnya Budidaya Teripang

Buku ini disusun sebagai upaya memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa budidaya rumput laut dapat memberikan manfaat lebih kepada masyarakat, salah satunya dengan mengintegrasikannya dengan budidaya teripang. Budidaya teripang bahkan dapat memberikan penghasil sangat besar karena berpotensi ekspor. Budidaya teripang dapat menjadi usaha yang dilakukan bersamaan dengan budidaya rumput laut, jeda musim menangkap ikan, atau sembari menunggu masa panen rumput laut.  Buku ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat umum, khususnya masyarakat mitra program pengabdian Ipteks bagi Wilayah di Kepulauan Sapeken Kabupaten Sumenep. Tentunya dengan buku ini, diharapkan masyarakat dapat termotivasi untuk berbudidaya dan nantinya dapat berkreasi bagaimana membuat pakan teripang berbasis rumput laut, dan limbah-limbah perikanan laut lainnya dan limbah peternakan, serta mengolah teripang dengan tepat agar layak jual sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan kemanfaatan rumput laut, bahkan dalam level yang layak dijual secara besar-besaran. Dengan demikian, kedepannya masyarakat akan semakin kreatif, produktif, dan sejahtera.