Tentang

Setiap orang berhak berkarya, setiap karya berhak dinikmati oleh khalayak ramai. Prinsip inilah yang menjadi cikal-bakal penerbit buku kota tua. Di Indonesia, sangat berjibun penulis, tapi para penulis itu kerapkali tidak mempunyai kesempatan untuk menerbitkan bukunya.

Sejumlah penulis banyak yang merasa kesal dengan sistem perbukuan di Indonesia. Pertama, hanya untuk mendapatkan jawaban bukunya layak diterbitkan atau tidak, kadang penulis harus menunggu berbulan-bulan. Selanjutnya, setelah terbit, royalti yang diberikan kepada penulis sangatlah sedikit.

Ini tentu tidak adil. Padahal, penulis adalah denyut nadi dunia literasi. Karena laterbelakang inilah, penerbit kota tua hadir membawa solusi. Dengan konsep naskah seratus persen terbit, memberi ruang bagi penulis untuk lebih semangat berkarya.
Perihal bagi hasil dan keuntungan, yang menentukan adalah penulis itu sendiri. Dengan sistem ini, penulis menjadi tuan atas naskah yang mereka ciptakan sendiri. Kami juga menolak rumus kalau penulis pemula akan sulit memasarkan karyanya. Menurut keyakinan kami, setiap buku pasti mempunyai pasarnya sendiri.

Kemungkinan yang paling buruk adalah, buku yang sudah jadi akan dibeli oleh orang-orang terdekat penulis. Seperti keluarga, teman sekolah, teman kuliah, hingga para tetangga mereka. Singkatnya, setiap karya selalu mempunyai pasarnya sendiri.
Selain itu, menulis buku sampai saat ini masih diyakini menjadi cara paling ampuh dalam membranding diri sendiri. Arsitek yang menulis buku, akan terlihat lebih professional dibanding arsitek yang hanya menggambar. Dokter yang hanya menyuntik, akan terlihat lebih professional jika dia juga menulis buku. Begitu juga bagi dosen, guru, politisi, wartawan, pengusaha, dan lain sebagainya.

Pada perkembangannya, tidak semua orang mempunyai waktu untuk menulis buku. Untuk menjawab permasalahan ini, penerbit kota juga menyediakan jasa konsultasi penulisan buku. Jasa ini sangat cocok bagi mereka yang tidak punya waktu untuk menulis buku, tapi ingin berkarya dan menginspirasi.

Kira-kira seperti itulah kami bekerja. Usia penerbit buku kota tua memang masih belia. Penerbit ini baru berdiri pada awal 2017 lalu, tapi kota tua ingin menjadi jujukan utama bagi para penulis. Tentu saja, hanya dengan menjaga kualitas, hal tersebut bisa terjadi.

Ini jugalah yang menjadi spirit kenapa penerbit ini kami beri nama kota tua. Nama ini diambil dari salah satu judul esai pendiri penerbit ini. Saat bingung menentukan pilihan nama yang tepat untuk penerbit buku yang akan dia dirikan, terlintas nama kota tua.
Kebetulan, judul esai itu berada pada tulisan paling awal di buku Para Pembisik Kedunguan, yang merupakan karya dari pendiri penerbitan ini. Sebagaimana dijelaskan di dalam esai itu, kota boleh tua, tapi spirit harus tetap muda. Kota di sebuah daerah boleh tua, tapi sifat manusiawi harus dimiliki oleh kota itu.

Demikianlah spirit kota tua, yang berusaha terus menerus memiliki spirit muda, dan tak lupa menjunjung tinggi nilai-nilai manusiawi. Apa itu sikap manusiawi? yakni memanusiakan manusia. Baik itu memanusiakan tim yang ada di dalam penerbit kota tua, dan memanusiakan klien yang merupakan patner terpenting dalam bisnis ini.

Sebagaimana jargon kota tua, yang fana adalah kertas, buku abadi, kami ajak Anda untuk menulis buku demi menyemai keabadian. Dalam hidup seseorang harus mempunyai legacy, dan buku adalah medium paling tepat menularkan legacy tersebut.
Salam literasi.